Selasa, 29 Juni 2010
Minggu, 23 Mei 2010
Bahaya Gelombang Harmonik
Beban listrik di industri dibagi dalam 4 kategori:
1. Beban non linear: Sumber harmonisa tinggi
2. Trafo Distribusi: Reaktansi XL
3. Power Capacitor: Reaktansi XC
4. Beban-beban lain yang bukan sumber harmonisa
Beban listrik yang menimbulkan Harmonisa tinggi:
• Motor DC
• Perubahan kecepatan motor (Frequensi Converter)
• UPS (Uninteruptible Power Supply)
• Mesin Las (Arc Furnace)
• Trafo (Induction Furnace)
• Discharge Lamp
Dampak buruk yang ditimbulkan oleh Gelombang Harmonik:
• Kesalahan operasi pada alat-alat pengatur (regulation device), timbul karena pergeseran phasa dari wave form tegangan disamping nilai puncak (peak value) dari wave form tegangan juga turut meningkat tajam.
• Bertambahnya kehilangan energi baik pada tembaga (kabel-kabel dan kumparan) maupun pada besi (pada inti dari trafo distribusi).
• Overheating pada motor-motor listrik dan pada capacitor.
• Dampak buruk pada audio frekuensi.
• Bertambahnya bunyi (sound level) pada motor-motor dan peralatan listrik lainnya.
• Tripping pada Circuit Breaker
Guna mengkonpensasi daya reaktif pada beban-beban induktif digunakan Power Capacitor yang dihubungkan paralel dengan beban pada panel induk, dengan demikian power factor beban keseluruhan akan dapat diperbaiki seperti yang disyaratkan oleh PLN.
Namun menghubungkan langsung power capacitor pada jaringan distribusi berbeban non linear yang menghasilkan harmonisa tinggi akan sangat berbahaya karena kemungkinan terjadinya paralel resonansi antara capacitor dengan beban induktif tertentu bahkan dengan trafo distribusi,
dan apabila frekuensi resonansi berada sangat dekat dengan frekuensi harmonisa ke-5 dan ke-7 maka tegangan harmonisa tinggi yang sangat kuat akan muncul pada busbar panel induk dan mengakibatkan arus lebih (over current) pada capacitor, trafo distribusi dan beban-beban lain.
Untuk mengatasi dampak pemasangan PF Correction Capacitor terhadap meningkatnya harmonisa tinggi pada jaringan berbeban non linear maka harus dipasang Detuned Reactor yang dihubungkan seri dengan power capacitor sehingga arus harmonisa dapat teredam.
Kapan diperlukan Detuned Reactor?
Jika total daya peralatan yang menghasilkan gelombang harmonik lebih dari 20% dibanding dengan total daya trafo maka diperlukan Detuned Reactor yang dihubungkan seri dengan power capacitor.
1. Beban non linear: Sumber harmonisa tinggi
2. Trafo Distribusi: Reaktansi XL
3. Power Capacitor: Reaktansi XC
4. Beban-beban lain yang bukan sumber harmonisa
Beban listrik yang menimbulkan Harmonisa tinggi:
• Motor DC
• Perubahan kecepatan motor (Frequensi Converter)
• UPS (Uninteruptible Power Supply)
• Mesin Las (Arc Furnace)
• Trafo (Induction Furnace)
• Discharge Lamp
Dampak buruk yang ditimbulkan oleh Gelombang Harmonik:
• Kesalahan operasi pada alat-alat pengatur (regulation device), timbul karena pergeseran phasa dari wave form tegangan disamping nilai puncak (peak value) dari wave form tegangan juga turut meningkat tajam.
• Bertambahnya kehilangan energi baik pada tembaga (kabel-kabel dan kumparan) maupun pada besi (pada inti dari trafo distribusi).
• Overheating pada motor-motor listrik dan pada capacitor.
• Dampak buruk pada audio frekuensi.
• Bertambahnya bunyi (sound level) pada motor-motor dan peralatan listrik lainnya.
• Tripping pada Circuit Breaker
Guna mengkonpensasi daya reaktif pada beban-beban induktif digunakan Power Capacitor yang dihubungkan paralel dengan beban pada panel induk, dengan demikian power factor beban keseluruhan akan dapat diperbaiki seperti yang disyaratkan oleh PLN.
Namun menghubungkan langsung power capacitor pada jaringan distribusi berbeban non linear yang menghasilkan harmonisa tinggi akan sangat berbahaya karena kemungkinan terjadinya paralel resonansi antara capacitor dengan beban induktif tertentu bahkan dengan trafo distribusi,
dan apabila frekuensi resonansi berada sangat dekat dengan frekuensi harmonisa ke-5 dan ke-7 maka tegangan harmonisa tinggi yang sangat kuat akan muncul pada busbar panel induk dan mengakibatkan arus lebih (over current) pada capacitor, trafo distribusi dan beban-beban lain.
Untuk mengatasi dampak pemasangan PF Correction Capacitor terhadap meningkatnya harmonisa tinggi pada jaringan berbeban non linear maka harus dipasang Detuned Reactor yang dihubungkan seri dengan power capacitor sehingga arus harmonisa dapat teredam.
Kapan diperlukan Detuned Reactor?
Jika total daya peralatan yang menghasilkan gelombang harmonik lebih dari 20% dibanding dengan total daya trafo maka diperlukan Detuned Reactor yang dihubungkan seri dengan power capacitor.
Tap Changer (Perubah Tap) Pada Transformator
Tap changer adalah alat perubah perbandingan transformasi untuk mendapatkan tegangan operasi sekunder yang lebih baik (diinginkan) dari tegangan jaringan / primer yang berubah-ubah.
Untuk memenuhi kualitas tegangan pelayanan sesuai kebutuhan konsumen (PLN Distribusi), tegangan keluaran (sekunder) transformator harus dapat dirubah sesuai keinginan. Untuk memenuhi hal tersebut, maka pada salah satu atau pada kedua sisi belitan transformator dibuat tap (penyadap) untuk merubah perbandingan transformasi (rasio) trafo.
Ada dua cara kerja tap changer:
1. Mengubah tap dalam keadaan trafo tanpa beban. Tap changer yang hanya bisa beroperasi untuk memindahkan tap transformator dalam keadaan transformator tidak berbeban, disebut “Off Load Tap Changer” dan hanya dapat dioperasikan manual (Gambar 1).
2. Mengubah tap dalam keadaan trafo berbeban. Tap changer yang dapat beroperasi untuk memindahkan tap transformator, dalam keadaan transformator berbeban, disebut “On Load Tap Changer (OLTC)” dan dapat dioperasikan secara manual atau otomatis (Gambar 2).
Transformator yang terpasang di gardu induk pada umumnya menggunakan tap changer yang dapat dioperasikan dalam keadaan trafo berbeban dan dipasang di sisi primer. Sedangkan transformator penaik tegangan di pembangkit atau pada trafo kapasitas kecil, umumnya menggunakan tap changer yang dioperasikan hanya pada saat trafo tenaga tanpa beban.
OLTC terdiri dari :
1. Selector Switch
2. diverter switch
3. transisi resistor
Untuk mengisolasi dari bodi trafo (tanah) dan meredam panas pada saat proses perpindahan tap, maka OLTC direndam di dalam minyak isolasi yang biasanya terpisah dengan minyak isolasi utama trafo (ada beberapa trafo yang compartemennya menjadi satu dengan main tank).
Karena pada proses perpindahan hubungan tap di dalam minyak terjadi fenomena elektris, mekanis, kimia dan panas, maka minyak isolasi OLTC kualitasnya akan cepat menurun. tergantung dari jumlah kerjanya dan adanya kelainan di dalam OLTC.
Untuk memenuhi kualitas tegangan pelayanan sesuai kebutuhan konsumen (PLN Distribusi), tegangan keluaran (sekunder) transformator harus dapat dirubah sesuai keinginan. Untuk memenuhi hal tersebut, maka pada salah satu atau pada kedua sisi belitan transformator dibuat tap (penyadap) untuk merubah perbandingan transformasi (rasio) trafo.
Ada dua cara kerja tap changer:
1. Mengubah tap dalam keadaan trafo tanpa beban. Tap changer yang hanya bisa beroperasi untuk memindahkan tap transformator dalam keadaan transformator tidak berbeban, disebut “Off Load Tap Changer” dan hanya dapat dioperasikan manual (Gambar 1).
2. Mengubah tap dalam keadaan trafo berbeban. Tap changer yang dapat beroperasi untuk memindahkan tap transformator, dalam keadaan transformator berbeban, disebut “On Load Tap Changer (OLTC)” dan dapat dioperasikan secara manual atau otomatis (Gambar 2).
Transformator yang terpasang di gardu induk pada umumnya menggunakan tap changer yang dapat dioperasikan dalam keadaan trafo berbeban dan dipasang di sisi primer. Sedangkan transformator penaik tegangan di pembangkit atau pada trafo kapasitas kecil, umumnya menggunakan tap changer yang dioperasikan hanya pada saat trafo tenaga tanpa beban.
OLTC terdiri dari :
1. Selector Switch
2. diverter switch
3. transisi resistor
Untuk mengisolasi dari bodi trafo (tanah) dan meredam panas pada saat proses perpindahan tap, maka OLTC direndam di dalam minyak isolasi yang biasanya terpisah dengan minyak isolasi utama trafo (ada beberapa trafo yang compartemennya menjadi satu dengan main tank).
Karena pada proses perpindahan hubungan tap di dalam minyak terjadi fenomena elektris, mekanis, kimia dan panas, maka minyak isolasi OLTC kualitasnya akan cepat menurun. tergantung dari jumlah kerjanya dan adanya kelainan di dalam OLTC.
JADWAL PIALA DUNIA 2010
JADWAL Final PIALA DUNIA 2010
(Waktu dalam WIB)
Perebutan Juara Ketiga
11 Juli 2010, 01:30
Tim Jerman vs Tim Uruguay, Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth
Final
12 Juli 2010, 01:30
Tim Belanda vs Tim Spanyol, Soccer City, Johannesburg
(Waktu dalam WIB)
Perebutan Juara Ketiga
11 Juli 2010, 01:30
Tim Jerman vs Tim Uruguay, Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth
Final
12 Juli 2010, 01:30
Tim Belanda vs Tim Spanyol, Soccer City, Johannesburg
Solusi menghemat biaya pemakaian listrik
• Apakah tagihan rekening listrik di perusahaan anda membengkak atau terkena denda oleh PLN?
• Pernahkah terpikir oleh anda untuk menghemat tagihan rekening listrik tanpa harus mengurangi kinerja usaha, justeru sebaliknya menaikkan kinerja usaha?
• Sudahkah perusahaan anda melakukan optimalisasi dan efisiensi pemakaian energi listrik?
• Relakah uang anda dikeluarkan untuk membayar tagihan rekening listrik yang cukup besar setiap bulan padahal ada solusi yang dapat menghemat tagihan rekening listrik?
Pertanyaan diatas hanyalah contoh dari beberapa analisa yang mungkin ada di benak anda dan tentunya hanya anda sendiri yang dapat memutuskan pilihan yang terbaik, namun tidak ada salahnya apabila anda kami ajak untuk mengenal sedikit banyak tentang listrik dan solusi aplikasinya.
Energi Reaktif
Sumber listrik arus bolak balik (Alternating Current) baik yang berasal dari generator maupun dari transformer mengeluarkan energi listrik dalam bentuk:
1. Energi Efektif (kW)
Yaitu energi yang kita gunakan yang dikonversi menjadi energi mekanik, panas, cahaya dan sebagainya.
2. Energi Reaktif (kVAr)
Yaitu energi yang diperlukan oleh peralatan listrik yang bekerja dengan sistem elektromagnet, untuk pembentukan medan magnet.
Faktor Daya (Cos phi)
Hubungan antara kVA, kW dan kVAr adalah sebagai berikut:
Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa tidak semua daya yang didapat dari PLN atau Generator dapat digunakan seluruhnya akan tetapi diantara kVA dan kW terdapat suatu faktor yang disebut sebagai Faktor Daya / Power Factor (Cos phi).
Biaya kVArh oleh PLN
PLN membebankan biaya kelebihan pemakaian kVArh kepada pelanggan pada golongan tarif tertentu apabila:
• Faktor Daya (Cos phi) pada instalasi pelanggan < 0.85 • Pemakaian kVArh total > 0.62 x pemakaian kWh total (LWBP + WBP)
KVArh = kVArh terpakai - ( 0.62 x kWh total terpakai )
Dari uraian diatas maka solusi yang harus kita lakukan untuk dapat melakukan penghematan energi listrik adalah dengan memperbaiki/mengkoreksi Faktor Daya (Cos phi) agar dicapai nilai Cos phi > 0.85.
Beberapa contoh permasalahan
Kasus 1
Suatu pabrik mempunyai sumber daya berupa 3 buah generator masing-masing 150kVA yang diparalel sehingga total daya dari 3 buah generator adalah: 3x150kVA = 450kVA
Jumlah bebannya adalah 210 kW. Setelah dicek Cos phi nya = 0.6 Berarti untuk menjalankan seluruh beban (210kW) diperlukan daya sebesar:
210kW : 0.6 = 350kVA, berarti harus dijalankan dengan 3 generator.
Tetapi setelah Cos phi nya ditingkatkan menjadi 0.95 maka daya yang dibutuhkan untuk menjalankan seluruh beban menjadi hanya:
210kW : 0.95 = 221kVA, maka cukup dijalankan dengan 2 buah generator saja.
Keuntungan yang diperoleh adalah:
• Dapat dihemat pemakaian bahan bakar untuk 1 generator.
• Pemakaian 3 generator dapat secara bergantian sehingga memperpanjang umur genset.
• 1 generator dapat dipakai sebagai cadangan sehingga tidak perlu ditambah dengan 1 generator lagi bila salah satu generator rusak sehingga proses produksi tidak akan terganggu.
Kasus 2
Suatu pabrik dengan sumber daya generator 500kVA, Jumlah beban 310kW, Cos phi = 0.65 maka daya yang diperlukan adalah:
310kW : 0.65 = 477kVA (berarti generator hampir overload)
Suatu ketika bebannya akan ditambah 100kW, sehingga jumlah beban bertambah menjadi 410 kW. Daya yang diperlukan menjadi:
410kW : 0.65 = 631kVA
Daya yang tersedia (500kVA) tidak mencukupi lagi untuk menanggung beban sebesar 631kVA.
Bagaimana mengatasinya?
Kita tingkatkan Cos phi nya menjadi 0.95, maka:
410kW : 0.95 = 432kVA
Dari perhitungan pada kasus ini dapat diambil kesimpulan bahwa:
• Sebelum dilakukan penambahan beban 100 kW, dengan ditingkatkannya Cos phi dari 0.65 menjadi 0.95 dapat dihemat daya sebesar 151kVA. ( 477kVA – 326kVA = 151kVA ).
• Dengan ditingkatkannya Cos phi menjadi 0.95 maka walaupun beban ditambah dengan 100kW masih dapat dijalankan dengan generator 500kVA, bahkan bebannya lebih ringan dari sebelumnya sehingga dengan makin ringannya beban berarti usia generator dapat lebih panjang.
• Bila Cos phi tidak diperbaiki (tetap 0.65) berarti harus dilakukan penambahan sumber daya (generator). Dengan demikian berarti dengan ditingkatkannya Cos phi maka dapat menghemat biaya untuk membeli generator berikut bahan bakarnya.
Kasus 3
Suatu pabrik telah mempunyai sumber daya PLN 520kVA. Jumlah bebannya 340kW, Cos phi 0.68.
Beban akan ditambah lagi dengan 120kW sehingga menjadi 460kW, maka diperlukan daya sebesar:
460kW : 0.68 = 676kVA.
Karena daya PLN (520kVA) sudah tidak cukup maka harus dilakukan penambahan daya sebesar 695 kVA.
Namun dengan ditingkatkannya Cos phi menjadi 0.95, maka setelah ditambah beban hanya diperlukan daya sebesar:
460kW : 0.95 = 484kVA
Dari perhitungan pada kasus ini dapat diambil kesimpulan bahwa:
• Dengan adanya penambahan beban tidak perlu dilakukan penambahan daya PLN, sehingga dengan demikian dapat dihemat biaya penyambungan daya ke PLN sebesar kira-kira 10.000.000,-
• Dapat dihemat biaya beban tetap setiap bulan (abunemen) yaitu sebesar kira-kira: Rp. 32.500,- x 170 kVA = Rp. 5.525.000,- / bulan.
Kasus 4
Suatu pabrik terdiri dari 3 bangunan gedung yaitu gedung A, gedung B dan gedung C. Pada gedung A akan diperluas dimana sebelum perluasan arusnya sebesar 200A dan Cos phi 0.6 serta dipakai kabel NYY 4 x 96 mm2 dengan kemampuan hantar arus maksimal sebesar 200A.
Perluasan tersebut mengakibatkan beban bertambah menjadi 260A sehingga kabel sudah tidak mampu lagi untuk dilalui arus tersebut. Bagaimana solusinya?
Pada Cos phi 0.6:
Arus 200A pada Cos phi 0.6 berarti daya yang dipakai adalah:
200A x 380 x akar 3 x 0.6 = 86kW
Arus 260A pada Cos phi 0.6 berarti daya yang dipakai adalah:
260A x 380 x akar 3 x 0.6 = 103kW (harus ganti kabel)
Pada Cos phi 0.95:
Daya 86 kW, Arusnya menjadi >> 86 kW :
(380 x akar 3 x 0.95) = 138 Ampere
Daya 103 kW, Arusnya menjadi >> 103 kW :
(380 x akar 3 x 0.95) = 165 Ampere (tidak perlu ganti kabel)
Dengan demikian berarti:
• Menghemat biaya penggantian / penambahan kabel
• Dengan turunnya arus listrik maka kemungkinan timbulnya panas pada kabel dapat dihindari karena arus (I) berbanding lurus dengan kalori/panas (Q). Bila I turun maka Q pun turun.
Analisa penghematan yang diperoleh
Contoh
Sebuah pabrik memiliki data instalasi sebagai berikut:
Trafo : 1.000 kVA
Waktu operasi : 07.00 – 17.00
Faktor daya : 0,65
Daya beban : 500 kW
Untuk alasan teknis, kepala pabrik akan meningkatkan faktor dayanya menjadi 0,95
Perhitungan pemakaian:
Pemakaian perbulan: 10 jam/hari x 30 hari x 500 kW = 150.000 kWh
Batas kVArh yang dibebaskan oleh PLN: 0,62 x 150.000 = 93.000 kVArh
Perhitungan sebelum kompensasi:
(cos phi = 0,65 maka tan phi = 1,17)
Daya reaktif terpakai:
Daya beban x tan phi
= 500 x 1.17
= 585 kVAr
Pemakaian Daya Reaktif perbulan:
= 585 kVAr x 10 jam/hari x 30 hari
= 175.500 kVArh
Denda kelebihan Daya Reaktif:
(175.500 – 93.000) x Rp. 571,-
Rp. 46.822.000,-
Perhitungan setelah kompensasi:
(cos phi = 0,95 maka tan phi = 0,33)
Daya reaktif terpakai:
Daya beban x tan phi
= 500 x 0,33
= 165 kVAr
Pemakaian daya reaktif perbulan:
= 165 kVAr x 10 jam/hari x 30 hari
= 49.500 kVArh
Denda kelebihan daya reaktif:
(49.500 – 93.000) x Rp. 571,-
Negatif
TIDAK MEMBAYAR DENDA & MENGHEMAT Rp. 561.864.000,- / Tahun
Keuntungan yang diperoleh dengan dipasangnya Power Capacitor
• Menghilangkan denda PLN atas kelebihan pemakaian daya reaktif.
• Menurunkan pemakaian kVA total karena pemakaian kVA lebih mendekati kW yang terpakai, akibatnya pemakaian energi listrik lebih hemat.
• Optimasi Jaringan:
- Memberikan tambahan daya yang tersedia pada trafo sehingga trafo tidak kelebihan beban (overload).
- Mengurangi penurunan tegangan (voltage drop) pada line ends dan meningkatkan daya pakai alat-alat produksi.
- Terhindar dari kenaikan arus/suhu pada kabel sehingga mengurangi rugi-rugi.
• Pernahkah terpikir oleh anda untuk menghemat tagihan rekening listrik tanpa harus mengurangi kinerja usaha, justeru sebaliknya menaikkan kinerja usaha?
• Sudahkah perusahaan anda melakukan optimalisasi dan efisiensi pemakaian energi listrik?
• Relakah uang anda dikeluarkan untuk membayar tagihan rekening listrik yang cukup besar setiap bulan padahal ada solusi yang dapat menghemat tagihan rekening listrik?
Pertanyaan diatas hanyalah contoh dari beberapa analisa yang mungkin ada di benak anda dan tentunya hanya anda sendiri yang dapat memutuskan pilihan yang terbaik, namun tidak ada salahnya apabila anda kami ajak untuk mengenal sedikit banyak tentang listrik dan solusi aplikasinya.
Energi Reaktif
Sumber listrik arus bolak balik (Alternating Current) baik yang berasal dari generator maupun dari transformer mengeluarkan energi listrik dalam bentuk:
1. Energi Efektif (kW)
Yaitu energi yang kita gunakan yang dikonversi menjadi energi mekanik, panas, cahaya dan sebagainya.
2. Energi Reaktif (kVAr)
Yaitu energi yang diperlukan oleh peralatan listrik yang bekerja dengan sistem elektromagnet, untuk pembentukan medan magnet.
Faktor Daya (Cos phi)
Hubungan antara kVA, kW dan kVAr adalah sebagai berikut:
Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa tidak semua daya yang didapat dari PLN atau Generator dapat digunakan seluruhnya akan tetapi diantara kVA dan kW terdapat suatu faktor yang disebut sebagai Faktor Daya / Power Factor (Cos phi).
Biaya kVArh oleh PLN
PLN membebankan biaya kelebihan pemakaian kVArh kepada pelanggan pada golongan tarif tertentu apabila:
• Faktor Daya (Cos phi) pada instalasi pelanggan < 0.85 • Pemakaian kVArh total > 0.62 x pemakaian kWh total (LWBP + WBP)
KVArh = kVArh terpakai - ( 0.62 x kWh total terpakai )
Dari uraian diatas maka solusi yang harus kita lakukan untuk dapat melakukan penghematan energi listrik adalah dengan memperbaiki/mengkoreksi Faktor Daya (Cos phi) agar dicapai nilai Cos phi > 0.85.
Beberapa contoh permasalahan
Kasus 1
Suatu pabrik mempunyai sumber daya berupa 3 buah generator masing-masing 150kVA yang diparalel sehingga total daya dari 3 buah generator adalah: 3x150kVA = 450kVA
Jumlah bebannya adalah 210 kW. Setelah dicek Cos phi nya = 0.6 Berarti untuk menjalankan seluruh beban (210kW) diperlukan daya sebesar:
210kW : 0.6 = 350kVA, berarti harus dijalankan dengan 3 generator.
Tetapi setelah Cos phi nya ditingkatkan menjadi 0.95 maka daya yang dibutuhkan untuk menjalankan seluruh beban menjadi hanya:
210kW : 0.95 = 221kVA, maka cukup dijalankan dengan 2 buah generator saja.
Keuntungan yang diperoleh adalah:
• Dapat dihemat pemakaian bahan bakar untuk 1 generator.
• Pemakaian 3 generator dapat secara bergantian sehingga memperpanjang umur genset.
• 1 generator dapat dipakai sebagai cadangan sehingga tidak perlu ditambah dengan 1 generator lagi bila salah satu generator rusak sehingga proses produksi tidak akan terganggu.
Kasus 2
Suatu pabrik dengan sumber daya generator 500kVA, Jumlah beban 310kW, Cos phi = 0.65 maka daya yang diperlukan adalah:
310kW : 0.65 = 477kVA (berarti generator hampir overload)
Suatu ketika bebannya akan ditambah 100kW, sehingga jumlah beban bertambah menjadi 410 kW. Daya yang diperlukan menjadi:
410kW : 0.65 = 631kVA
Daya yang tersedia (500kVA) tidak mencukupi lagi untuk menanggung beban sebesar 631kVA.
Bagaimana mengatasinya?
Kita tingkatkan Cos phi nya menjadi 0.95, maka:
410kW : 0.95 = 432kVA
Dari perhitungan pada kasus ini dapat diambil kesimpulan bahwa:
• Sebelum dilakukan penambahan beban 100 kW, dengan ditingkatkannya Cos phi dari 0.65 menjadi 0.95 dapat dihemat daya sebesar 151kVA. ( 477kVA – 326kVA = 151kVA ).
• Dengan ditingkatkannya Cos phi menjadi 0.95 maka walaupun beban ditambah dengan 100kW masih dapat dijalankan dengan generator 500kVA, bahkan bebannya lebih ringan dari sebelumnya sehingga dengan makin ringannya beban berarti usia generator dapat lebih panjang.
• Bila Cos phi tidak diperbaiki (tetap 0.65) berarti harus dilakukan penambahan sumber daya (generator). Dengan demikian berarti dengan ditingkatkannya Cos phi maka dapat menghemat biaya untuk membeli generator berikut bahan bakarnya.
Kasus 3
Suatu pabrik telah mempunyai sumber daya PLN 520kVA. Jumlah bebannya 340kW, Cos phi 0.68.
Beban akan ditambah lagi dengan 120kW sehingga menjadi 460kW, maka diperlukan daya sebesar:
460kW : 0.68 = 676kVA.
Karena daya PLN (520kVA) sudah tidak cukup maka harus dilakukan penambahan daya sebesar 695 kVA.
Namun dengan ditingkatkannya Cos phi menjadi 0.95, maka setelah ditambah beban hanya diperlukan daya sebesar:
460kW : 0.95 = 484kVA
Dari perhitungan pada kasus ini dapat diambil kesimpulan bahwa:
• Dengan adanya penambahan beban tidak perlu dilakukan penambahan daya PLN, sehingga dengan demikian dapat dihemat biaya penyambungan daya ke PLN sebesar kira-kira 10.000.000,-
• Dapat dihemat biaya beban tetap setiap bulan (abunemen) yaitu sebesar kira-kira: Rp. 32.500,- x 170 kVA = Rp. 5.525.000,- / bulan.
Kasus 4
Suatu pabrik terdiri dari 3 bangunan gedung yaitu gedung A, gedung B dan gedung C. Pada gedung A akan diperluas dimana sebelum perluasan arusnya sebesar 200A dan Cos phi 0.6 serta dipakai kabel NYY 4 x 96 mm2 dengan kemampuan hantar arus maksimal sebesar 200A.
Perluasan tersebut mengakibatkan beban bertambah menjadi 260A sehingga kabel sudah tidak mampu lagi untuk dilalui arus tersebut. Bagaimana solusinya?
Pada Cos phi 0.6:
Arus 200A pada Cos phi 0.6 berarti daya yang dipakai adalah:
200A x 380 x akar 3 x 0.6 = 86kW
Arus 260A pada Cos phi 0.6 berarti daya yang dipakai adalah:
260A x 380 x akar 3 x 0.6 = 103kW (harus ganti kabel)
Pada Cos phi 0.95:
Daya 86 kW, Arusnya menjadi >> 86 kW :
(380 x akar 3 x 0.95) = 138 Ampere
Daya 103 kW, Arusnya menjadi >> 103 kW :
(380 x akar 3 x 0.95) = 165 Ampere (tidak perlu ganti kabel)
Dengan demikian berarti:
• Menghemat biaya penggantian / penambahan kabel
• Dengan turunnya arus listrik maka kemungkinan timbulnya panas pada kabel dapat dihindari karena arus (I) berbanding lurus dengan kalori/panas (Q). Bila I turun maka Q pun turun.
Analisa penghematan yang diperoleh
Contoh
Sebuah pabrik memiliki data instalasi sebagai berikut:
Trafo : 1.000 kVA
Waktu operasi : 07.00 – 17.00
Faktor daya : 0,65
Daya beban : 500 kW
Untuk alasan teknis, kepala pabrik akan meningkatkan faktor dayanya menjadi 0,95
Perhitungan pemakaian:
Pemakaian perbulan: 10 jam/hari x 30 hari x 500 kW = 150.000 kWh
Batas kVArh yang dibebaskan oleh PLN: 0,62 x 150.000 = 93.000 kVArh
Perhitungan sebelum kompensasi:
(cos phi = 0,65 maka tan phi = 1,17)
Daya reaktif terpakai:
Daya beban x tan phi
= 500 x 1.17
= 585 kVAr
Pemakaian Daya Reaktif perbulan:
= 585 kVAr x 10 jam/hari x 30 hari
= 175.500 kVArh
Denda kelebihan Daya Reaktif:
(175.500 – 93.000) x Rp. 571,-
Rp. 46.822.000,-
Perhitungan setelah kompensasi:
(cos phi = 0,95 maka tan phi = 0,33)
Daya reaktif terpakai:
Daya beban x tan phi
= 500 x 0,33
= 165 kVAr
Pemakaian daya reaktif perbulan:
= 165 kVAr x 10 jam/hari x 30 hari
= 49.500 kVArh
Denda kelebihan daya reaktif:
(49.500 – 93.000) x Rp. 571,-
Negatif
TIDAK MEMBAYAR DENDA & MENGHEMAT Rp. 561.864.000,- / Tahun
Keuntungan yang diperoleh dengan dipasangnya Power Capacitor
• Menghilangkan denda PLN atas kelebihan pemakaian daya reaktif.
• Menurunkan pemakaian kVA total karena pemakaian kVA lebih mendekati kW yang terpakai, akibatnya pemakaian energi listrik lebih hemat.
• Optimasi Jaringan:
- Memberikan tambahan daya yang tersedia pada trafo sehingga trafo tidak kelebihan beban (overload).
- Mengurangi penurunan tegangan (voltage drop) pada line ends dan meningkatkan daya pakai alat-alat produksi.
- Terhindar dari kenaikan arus/suhu pada kabel sehingga mengurangi rugi-rugi.
Hemat Listrik dengan Ballast Elektronik
Lampu tabung Neon (Fluorescent Lamp) adalah lampu tabung yang terbuat dari kaca yang didalamnya berisi gas argon dan dikedua ujungnya terdapat filamen elektroda. Untuk menyalakan lampu neon ini dibutuhkan alat yang disebut Ballast.
Pada umumnya masyarakat kita lebih mengenal Ballast konvensional yang terbuat dari lempengan besi yang didalamnya terdapat kumparan kawat tembaga/spul. Namun ballast jenis konvensional ini banyak kelemahannya.
Belasan tahun yang silam, para ahli elektronika telah menemukan suatu sistem penyalaan lampu neon dengan menggunakan frekuensi tinggi yang kemudian dikenal dengan nama Ballast Elektronik. Saat ini sudah banyak lampu yang sudah dilengkapi dengan ballast elektronik namun terbatas pada jenis lampu-lampu SL, PLE-C, PLE-T untuk penerangan biasa seperti pemasangan di rumah dengan daya kecil yang dipasang langsung ke fitting misalnya fitting E27. Lalu bagaimana dengan lampu TL untuk di perkantoran, gedung-gedung dan industri yang masih menggunakan Ballast konvensional dan Starter sebagai pemicunya?
Berikut adalah kelemahan dari Ballast Konvensional:
• Pemborosan Arus (± 0,45 Ampere / 40 Watt).
• Umur neon lebih pendek akibat banyaknya flicker dan arus picu pada filamen.
• Tidak akan menyala sempurna pada tegangan rendah (dibawah 200V).
• Sering timbul suara dengung.
• Adanya flicker/kedipan pada lampu yang mengganggu penglihatan dan memperpendek umur lampu neon.
• Harus memakai Starter.
• Pada saat saklar dinyalakan lampu neon tidak langsung menyala melainkan harus dipicu terlebih dahulu sehingga terdapat kedipan/flicker yang dapat memperpendek umur neon (pada bagian ujung lampu neon biasanya berwarna hitam).
• Arus dan Tegangan tidak stabil akibat induksi medan magnet pada kumparan ballast. Cos phi (power factor) sangat rendah ± 0,48 (dibawah standar PLN yaitu 0,85), hal ini yang menyebabkan listrik menjadi boros.
Dengan perkembangan teknologi tersebut dan himbauan pemerintah tentang masalah hemat energi maka kami menghadirkan Ballast Elektronik TOPFLASH.
Kelebihan Ballast Elektronik TOPFLASH:
• Konsumsi arus sangat kecil (0,15 - 0,2 Amp/40W)
Penghematan hampir 3 kali dibanding dengan ballast konvensional.
• Lampu tidak berkedip
Ini dikarenakan Ballast Elektronik TOPFLASH beroperasi pada frekuensi tinggi yang konstan sehingga tidak memberikan kesempatan pada lampu neon untuk padam selama satu gelombang putaran. Lampu neon yang beroperasi pada 50/60 Hz akan padam dua kali setiap gelombang putaran, yaitu pada saat gelombang sinus mencapai titik nol. Hal inilah yang menyebabkan lampu neon terlihat berkedip, dengan ballast elektronik TOPFLASH hal ini dapat diantisipasi.
• Tidak perlu Starter
Dengan beroperasi pada frekuensi tinggi yang langsung membuat kedua filamen elektroda berpijar maka alat starter tidak diperlukan lagi.
• Tidak ada suara dengungan
Ballast elektronik TOPFLASH bekerja dengan frekuensi diatas kemampuan penangkapan telinga manusia sehingga suara dengungan tidak akan terdengar lagi. Lain halnya dengan ballast konvensional, dimana sering terdengar suara dengungan akibat pancaran laminasi dan coil yang merangsang vibrasi dari body ballast / plat besi sehingga timbul suara dengungan.
• Usia lampu lebih panjang
Ballast elektronik TOPFLASH menggunakan sistem Rapid Start, penyalaan lampu yang lembut dan terkontrol. Hal ini akan memperpanjang usia lampu dibanding ballast konvensional.
• Power Factor (Cos phi) yang tinggi
Ballast elektronik TOPFLASH menggunakan rangkaian komponen elektronik yang padat, ringan dan terkontrol. Power factor bisa mencapai 0,93 - 0,99 (melebihi batas standar PLN). Hal ini yang membuat efisiensi tinggi dapat tercapai dengan baik.
• Sinar lampu yang konstan
Dengan sistem operasi berfrekuensi tinggi, Ballast elektronik TOPFLASH tidak memberikan kesmpatan kepada lampu neon untuk berkedip, dengan demikian nyala lampu selalu konstan dan lebih terang dibanding ballast konvensional walaupun tegangannya dibawah 200V.
• Low Harmonic
Riak frekuensi yang dihasilkan sangat kecil dan teratur sehingga membentuk gelombang sinus yang hampir sempurna. Hal ini yang membuat Ballast elektronik TOPFLASH tidak mempengaruhi kinerja peralatan elektronik lain.
• Jaminan dan Layanan Purna Jual
Ballast elektronik TOPFLASH terbuat dari bahan bermutu tinggi memberikan Jaminan garansi selama 1 (satu) tahun, selain itu kami memberikan layanan purna jual dan informasi-informasi teknik yang sekiranya diperlukan, Silahkan hubungi kami.
Analisa penghematan yang diperoleh dari pemakaian Ballast elektronik TOPFLASH
Contoh Kasus:
Sebuah kantor akan dipasang lampu jenis TKI 2x36 Watt pada tegangan 220 Volt sebanyak 50 titik yang akan menyala dari jam 08.00 s/d 18.00. Sebelum dipasang perencana listrik terlebih dahulu melakukan analisa Ballast jenis apa yang cocok untuk dipasang agar dapat menghemat pemakaian listrik, tidak ada flicker dan umur lampu lebih tahan lama?
Memakai Ballast Konvensional (Cos phi = 0,48)
I = (2 x 36 Watt) : (220 Volt x 0,48) = 0,682 Ampere
P = 0,682 Ampere x 220 Volt = 150,04 Watt
Pemakaian listrik per bulan:
10 jam/hari x 30 hari x 150,04 Watt = 45012 Watt/jam = 45,012 kWh
45,012 kWh x Rp. 480 = Rp. 21.606
50 titik lampu x Rp. 21.606 = Rp. 1.080.300
Memakai Ballast Elektronik TOPFLASH (Cos phi = 0,92)
I = (2 x 36 Watt) : (220 Volt x 0,92) = 0,356 Ampere
P = 0,356 Ampere x 220 Volt = 78,32 Watt
Lampu tabung Neon (Fluorescent Lamp) adalah lampu tabung yang terbuat dari kaca yang didalamnya berisi gas argon dan dikedua ujungnya terdapat filamen elektroda. Untuk menyalakan lampu neon ini dibutuhkan alat yang disebut Ballast.
Pada umumnya masyarakat kita lebih mengenal Ballast konvensional yang terbuat dari lempengan besi yang didalamnya terdapat kumparan kawat tembaga/spul. Namun ballast jenis konvensional ini banyak kelemahannya.
Belasan tahun yang silam, para ahli elektronika telah menemukan suatu sistem penyalaan lampu neon dengan menggunakan frekuensi tinggi yang kemudian dikenal dengan nama Ballast Elektronik. Saat ini sudah banyak lampu yang sudah dilengkapi dengan ballast elektronik namun terbatas pada jenis lampu-lampu SL, PLE-C, PLE-T untuk penerangan biasa seperti pemasangan di rumah dengan daya kecil yang dipasang langsung ke fitting misalnya fitting E27. Lalu bagaimana dengan lampu TL untuk di perkantoran, gedung-gedung dan industri yang masih menggunakan Ballast konvensional dan Starter sebagai pemicunya?
Berikut adalah kelemahan dari Ballast Konvensional:
• Pemborosan Arus (± 0,45 Ampere / 40 Watt).
• Umur neon lebih pendek akibat banyaknya flicker dan arus picu pada filamen.
• Tidak akan menyala sempurna pada tegangan rendah (dibawah 200V).
• Sering timbul suara dengung.
• Adanya flicker/kedipan pada lampu yang mengganggu penglihatan dan memperpendek umur lampu neon.
• Harus memakai Starter.
• Pada saat saklar dinyalakan lampu neon tidak langsung menyala melainkan harus dipicu terlebih dahulu sehingga terdapat kedipan/flicker yang dapat memperpendek umur neon (pada bagian ujung lampu neon biasanya berwarna hitam).
• Arus dan Tegangan tidak stabil akibat induksi medan magnet pada kumparan ballast. Cos phi (power factor) sangat rendah ± 0,48 (dibawah standar PLN yaitu 0,85), hal ini yang menyebabkan listrik menjadi boros.
Dengan perkembangan teknologi tersebut dan himbauan pemerintah tentang masalah hemat energi maka kami menghadirkan Ballast Elektronik TOPFLASH.
Kelebihan Ballast Elektronik TOPFLASH:
• Konsumsi arus sangat kecil (0,15 - 0,2 Amp/40W)
Penghematan hampir 3 kali dibanding dengan ballast konvensional.
• Lampu tidak berkedip
Ini dikarenakan Ballast Elektronik TOPFLASH beroperasi pada frekuensi tinggi yang konstan sehingga tidak memberikan kesempatan pada lampu neon untuk padam selama satu gelombang putaran. Lampu neon yang beroperasi pada 50/60 Hz akan padam dua kali setiap gelombang putaran, yaitu pada saat gelombang sinus mencapai titik nol. Hal inilah yang menyebabkan lampu neon terlihat berkedip, dengan ballast elektronik TOPFLASH hal ini dapat diantisipasi.
• Tidak perlu Starter
Dengan beroperasi pada frekuensi tinggi yang langsung membuat kedua filamen elektroda berpijar maka alat starter tidak diperlukan lagi.
• Tidak ada suara dengungan
Ballast elektronik TOPFLASH bekerja dengan frekuensi diatas kemampuan penangkapan telinga manusia sehingga suara dengungan tidak akan terdengar lagi. Lain halnya dengan ballast konvensional, dimana sering terdengar suara dengungan akibat pancaran laminasi dan coil yang merangsang vibrasi dari body ballast / plat besi sehingga timbul suara dengungan.
• Usia lampu lebih panjang
Ballast elektronik TOPFLASH menggunakan sistem Rapid Start, penyalaan lampu yang lembut dan terkontrol. Hal ini akan memperpanjang usia lampu dibanding ballast konvensional.
• Power Factor (Cos phi) yang tinggi
Ballast elektronik TOPFLASH menggunakan rangkaian komponen elektronik yang padat, ringan dan terkontrol. Power factor bisa mencapai 0,93 - 0,99 (melebihi batas standar PLN). Hal ini yang membuat efisiensi tinggi dapat tercapai dengan baik.
• Sinar lampu yang konstan
Dengan sistem operasi berfrekuensi tinggi, Ballast elektronik TOPFLASH tidak memberikan kesmpatan kepada lampu neon untuk berkedip, dengan demikian nyala lampu selalu konstan dan lebih terang dibanding ballast konvensional walaupun tegangannya dibawah 200V.
• Low Harmonic
Riak frekuensi yang dihasilkan sangat kecil dan teratur sehingga membentuk gelombang sinus yang hampir sempurna. Hal ini yang membuat Ballast elektronik TOPFLASH tidak mempengaruhi kinerja peralatan elektronik lain.
• Jaminan dan Layanan Purna Jual
Ballast elektronik TOPFLASH terbuat dari bahan bermutu tinggi memberikan Jaminan garansi selama 1 (satu) tahun, selain itu kami memberikan layanan purna jual dan informasi-informasi teknik yang sekiranya diperlukan, Silahkan hubungi kami.
Analisa penghematan yang diperoleh dari pemakaian Ballast elektronik TOPFLASH
Contoh Kasus:
Sebuah kantor akan dipasang lampu jenis TKI 2x36 Watt pada tegangan 220 Volt sebanyak 50 titik yang akan menyala dari jam 08.00 s/d 18.00. Sebelum dipasang perencana listrik terlebih dahulu melakukan analisa Ballast jenis apa yang cocok untuk dipasang agar dapat menghemat pemakaian listrik, tidak ada flicker dan umur lampu lebih tahan lama?
Memakai Ballast Konvensional (Cos phi = 0,48)
I = (2 x 36 Watt) : (220 Volt x 0,48) = 0,682 Ampere
P = 0,682 Ampere x 220 Volt = 150,04 Watt
Pemakaian listrik per bulan:
10 jam/hari x 30 hari x 150,04 Watt = 45012 Watt/jam = 45,012 kWh
45,012 kWh x Rp. 480 = Rp. 21.606
50 titik lampu x Rp. 21.606 = Rp. 1.080.300
Memakai Ballast Elektronik TOPFLASH (Cos phi = 0,92)
I = (2 x 36 Watt) : (220 Volt x 0,92) = 0,356 Ampere
P = 0,356 Ampere x 220 Volt = 78,32 Watt
Pemakaian listrik per bulan:
10 jam/hari x 30 hari x 78,32 Watt = 23496 Watt/jam = 23,496 kWh
23,496 kWh x Rp. 480 = Rp. 11.278 (Hemat Rp.10.332)
50 titik lampu x Rp. 11.278 = Rp. 563.900 (Hemat Rp. 516.400)
Kesimpulan:
• Menghemat pembayaran listrik Rp. 6.196.800 per tahun
• Tidak ada flicker dan umur lampu lebih tahan lama
Pada umumnya masyarakat kita lebih mengenal Ballast konvensional yang terbuat dari lempengan besi yang didalamnya terdapat kumparan kawat tembaga/spul. Namun ballast jenis konvensional ini banyak kelemahannya.
Belasan tahun yang silam, para ahli elektronika telah menemukan suatu sistem penyalaan lampu neon dengan menggunakan frekuensi tinggi yang kemudian dikenal dengan nama Ballast Elektronik. Saat ini sudah banyak lampu yang sudah dilengkapi dengan ballast elektronik namun terbatas pada jenis lampu-lampu SL, PLE-C, PLE-T untuk penerangan biasa seperti pemasangan di rumah dengan daya kecil yang dipasang langsung ke fitting misalnya fitting E27. Lalu bagaimana dengan lampu TL untuk di perkantoran, gedung-gedung dan industri yang masih menggunakan Ballast konvensional dan Starter sebagai pemicunya?
Berikut adalah kelemahan dari Ballast Konvensional:
• Pemborosan Arus (± 0,45 Ampere / 40 Watt).
• Umur neon lebih pendek akibat banyaknya flicker dan arus picu pada filamen.
• Tidak akan menyala sempurna pada tegangan rendah (dibawah 200V).
• Sering timbul suara dengung.
• Adanya flicker/kedipan pada lampu yang mengganggu penglihatan dan memperpendek umur lampu neon.
• Harus memakai Starter.
• Pada saat saklar dinyalakan lampu neon tidak langsung menyala melainkan harus dipicu terlebih dahulu sehingga terdapat kedipan/flicker yang dapat memperpendek umur neon (pada bagian ujung lampu neon biasanya berwarna hitam).
• Arus dan Tegangan tidak stabil akibat induksi medan magnet pada kumparan ballast. Cos phi (power factor) sangat rendah ± 0,48 (dibawah standar PLN yaitu 0,85), hal ini yang menyebabkan listrik menjadi boros.
Dengan perkembangan teknologi tersebut dan himbauan pemerintah tentang masalah hemat energi maka kami menghadirkan Ballast Elektronik TOPFLASH.
Kelebihan Ballast Elektronik TOPFLASH:
• Konsumsi arus sangat kecil (0,15 - 0,2 Amp/40W)
Penghematan hampir 3 kali dibanding dengan ballast konvensional.
• Lampu tidak berkedip
Ini dikarenakan Ballast Elektronik TOPFLASH beroperasi pada frekuensi tinggi yang konstan sehingga tidak memberikan kesempatan pada lampu neon untuk padam selama satu gelombang putaran. Lampu neon yang beroperasi pada 50/60 Hz akan padam dua kali setiap gelombang putaran, yaitu pada saat gelombang sinus mencapai titik nol. Hal inilah yang menyebabkan lampu neon terlihat berkedip, dengan ballast elektronik TOPFLASH hal ini dapat diantisipasi.
• Tidak perlu Starter
Dengan beroperasi pada frekuensi tinggi yang langsung membuat kedua filamen elektroda berpijar maka alat starter tidak diperlukan lagi.
• Tidak ada suara dengungan
Ballast elektronik TOPFLASH bekerja dengan frekuensi diatas kemampuan penangkapan telinga manusia sehingga suara dengungan tidak akan terdengar lagi. Lain halnya dengan ballast konvensional, dimana sering terdengar suara dengungan akibat pancaran laminasi dan coil yang merangsang vibrasi dari body ballast / plat besi sehingga timbul suara dengungan.
• Usia lampu lebih panjang
Ballast elektronik TOPFLASH menggunakan sistem Rapid Start, penyalaan lampu yang lembut dan terkontrol. Hal ini akan memperpanjang usia lampu dibanding ballast konvensional.
• Power Factor (Cos phi) yang tinggi
Ballast elektronik TOPFLASH menggunakan rangkaian komponen elektronik yang padat, ringan dan terkontrol. Power factor bisa mencapai 0,93 - 0,99 (melebihi batas standar PLN). Hal ini yang membuat efisiensi tinggi dapat tercapai dengan baik.
• Sinar lampu yang konstan
Dengan sistem operasi berfrekuensi tinggi, Ballast elektronik TOPFLASH tidak memberikan kesmpatan kepada lampu neon untuk berkedip, dengan demikian nyala lampu selalu konstan dan lebih terang dibanding ballast konvensional walaupun tegangannya dibawah 200V.
• Low Harmonic
Riak frekuensi yang dihasilkan sangat kecil dan teratur sehingga membentuk gelombang sinus yang hampir sempurna. Hal ini yang membuat Ballast elektronik TOPFLASH tidak mempengaruhi kinerja peralatan elektronik lain.
• Jaminan dan Layanan Purna Jual
Ballast elektronik TOPFLASH terbuat dari bahan bermutu tinggi memberikan Jaminan garansi selama 1 (satu) tahun, selain itu kami memberikan layanan purna jual dan informasi-informasi teknik yang sekiranya diperlukan, Silahkan hubungi kami.
Analisa penghematan yang diperoleh dari pemakaian Ballast elektronik TOPFLASH
Contoh Kasus:
Sebuah kantor akan dipasang lampu jenis TKI 2x36 Watt pada tegangan 220 Volt sebanyak 50 titik yang akan menyala dari jam 08.00 s/d 18.00. Sebelum dipasang perencana listrik terlebih dahulu melakukan analisa Ballast jenis apa yang cocok untuk dipasang agar dapat menghemat pemakaian listrik, tidak ada flicker dan umur lampu lebih tahan lama?
Memakai Ballast Konvensional (Cos phi = 0,48)
I = (2 x 36 Watt) : (220 Volt x 0,48) = 0,682 Ampere
P = 0,682 Ampere x 220 Volt = 150,04 Watt
Pemakaian listrik per bulan:
10 jam/hari x 30 hari x 150,04 Watt = 45012 Watt/jam = 45,012 kWh
45,012 kWh x Rp. 480 = Rp. 21.606
50 titik lampu x Rp. 21.606 = Rp. 1.080.300
Memakai Ballast Elektronik TOPFLASH (Cos phi = 0,92)
I = (2 x 36 Watt) : (220 Volt x 0,92) = 0,356 Ampere
P = 0,356 Ampere x 220 Volt = 78,32 Watt
Lampu tabung Neon (Fluorescent Lamp) adalah lampu tabung yang terbuat dari kaca yang didalamnya berisi gas argon dan dikedua ujungnya terdapat filamen elektroda. Untuk menyalakan lampu neon ini dibutuhkan alat yang disebut Ballast.
Pada umumnya masyarakat kita lebih mengenal Ballast konvensional yang terbuat dari lempengan besi yang didalamnya terdapat kumparan kawat tembaga/spul. Namun ballast jenis konvensional ini banyak kelemahannya.
Belasan tahun yang silam, para ahli elektronika telah menemukan suatu sistem penyalaan lampu neon dengan menggunakan frekuensi tinggi yang kemudian dikenal dengan nama Ballast Elektronik. Saat ini sudah banyak lampu yang sudah dilengkapi dengan ballast elektronik namun terbatas pada jenis lampu-lampu SL, PLE-C, PLE-T untuk penerangan biasa seperti pemasangan di rumah dengan daya kecil yang dipasang langsung ke fitting misalnya fitting E27. Lalu bagaimana dengan lampu TL untuk di perkantoran, gedung-gedung dan industri yang masih menggunakan Ballast konvensional dan Starter sebagai pemicunya?
Berikut adalah kelemahan dari Ballast Konvensional:
• Pemborosan Arus (± 0,45 Ampere / 40 Watt).
• Umur neon lebih pendek akibat banyaknya flicker dan arus picu pada filamen.
• Tidak akan menyala sempurna pada tegangan rendah (dibawah 200V).
• Sering timbul suara dengung.
• Adanya flicker/kedipan pada lampu yang mengganggu penglihatan dan memperpendek umur lampu neon.
• Harus memakai Starter.
• Pada saat saklar dinyalakan lampu neon tidak langsung menyala melainkan harus dipicu terlebih dahulu sehingga terdapat kedipan/flicker yang dapat memperpendek umur neon (pada bagian ujung lampu neon biasanya berwarna hitam).
• Arus dan Tegangan tidak stabil akibat induksi medan magnet pada kumparan ballast. Cos phi (power factor) sangat rendah ± 0,48 (dibawah standar PLN yaitu 0,85), hal ini yang menyebabkan listrik menjadi boros.
Dengan perkembangan teknologi tersebut dan himbauan pemerintah tentang masalah hemat energi maka kami menghadirkan Ballast Elektronik TOPFLASH.
Kelebihan Ballast Elektronik TOPFLASH:
• Konsumsi arus sangat kecil (0,15 - 0,2 Amp/40W)
Penghematan hampir 3 kali dibanding dengan ballast konvensional.
• Lampu tidak berkedip
Ini dikarenakan Ballast Elektronik TOPFLASH beroperasi pada frekuensi tinggi yang konstan sehingga tidak memberikan kesempatan pada lampu neon untuk padam selama satu gelombang putaran. Lampu neon yang beroperasi pada 50/60 Hz akan padam dua kali setiap gelombang putaran, yaitu pada saat gelombang sinus mencapai titik nol. Hal inilah yang menyebabkan lampu neon terlihat berkedip, dengan ballast elektronik TOPFLASH hal ini dapat diantisipasi.
• Tidak perlu Starter
Dengan beroperasi pada frekuensi tinggi yang langsung membuat kedua filamen elektroda berpijar maka alat starter tidak diperlukan lagi.
• Tidak ada suara dengungan
Ballast elektronik TOPFLASH bekerja dengan frekuensi diatas kemampuan penangkapan telinga manusia sehingga suara dengungan tidak akan terdengar lagi. Lain halnya dengan ballast konvensional, dimana sering terdengar suara dengungan akibat pancaran laminasi dan coil yang merangsang vibrasi dari body ballast / plat besi sehingga timbul suara dengungan.
• Usia lampu lebih panjang
Ballast elektronik TOPFLASH menggunakan sistem Rapid Start, penyalaan lampu yang lembut dan terkontrol. Hal ini akan memperpanjang usia lampu dibanding ballast konvensional.
• Power Factor (Cos phi) yang tinggi
Ballast elektronik TOPFLASH menggunakan rangkaian komponen elektronik yang padat, ringan dan terkontrol. Power factor bisa mencapai 0,93 - 0,99 (melebihi batas standar PLN). Hal ini yang membuat efisiensi tinggi dapat tercapai dengan baik.
• Sinar lampu yang konstan
Dengan sistem operasi berfrekuensi tinggi, Ballast elektronik TOPFLASH tidak memberikan kesmpatan kepada lampu neon untuk berkedip, dengan demikian nyala lampu selalu konstan dan lebih terang dibanding ballast konvensional walaupun tegangannya dibawah 200V.
• Low Harmonic
Riak frekuensi yang dihasilkan sangat kecil dan teratur sehingga membentuk gelombang sinus yang hampir sempurna. Hal ini yang membuat Ballast elektronik TOPFLASH tidak mempengaruhi kinerja peralatan elektronik lain.
• Jaminan dan Layanan Purna Jual
Ballast elektronik TOPFLASH terbuat dari bahan bermutu tinggi memberikan Jaminan garansi selama 1 (satu) tahun, selain itu kami memberikan layanan purna jual dan informasi-informasi teknik yang sekiranya diperlukan, Silahkan hubungi kami.
Analisa penghematan yang diperoleh dari pemakaian Ballast elektronik TOPFLASH
Contoh Kasus:
Sebuah kantor akan dipasang lampu jenis TKI 2x36 Watt pada tegangan 220 Volt sebanyak 50 titik yang akan menyala dari jam 08.00 s/d 18.00. Sebelum dipasang perencana listrik terlebih dahulu melakukan analisa Ballast jenis apa yang cocok untuk dipasang agar dapat menghemat pemakaian listrik, tidak ada flicker dan umur lampu lebih tahan lama?
Memakai Ballast Konvensional (Cos phi = 0,48)
I = (2 x 36 Watt) : (220 Volt x 0,48) = 0,682 Ampere
P = 0,682 Ampere x 220 Volt = 150,04 Watt
Pemakaian listrik per bulan:
10 jam/hari x 30 hari x 150,04 Watt = 45012 Watt/jam = 45,012 kWh
45,012 kWh x Rp. 480 = Rp. 21.606
50 titik lampu x Rp. 21.606 = Rp. 1.080.300
Memakai Ballast Elektronik TOPFLASH (Cos phi = 0,92)
I = (2 x 36 Watt) : (220 Volt x 0,92) = 0,356 Ampere
P = 0,356 Ampere x 220 Volt = 78,32 Watt
Pemakaian listrik per bulan:
10 jam/hari x 30 hari x 78,32 Watt = 23496 Watt/jam = 23,496 kWh
23,496 kWh x Rp. 480 = Rp. 11.278 (Hemat Rp.10.332)
50 titik lampu x Rp. 11.278 = Rp. 563.900 (Hemat Rp. 516.400)
Kesimpulan:
• Menghemat pembayaran listrik Rp. 6.196.800 per tahun
• Tidak ada flicker dan umur lampu lebih tahan lama
Selasa, 27 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)